Kemacetan di jam pulang kerja, jarak tempuh harian yang relatif pendek, dan suhu Surabaya yang panas membuat banyak warga mulai melirik mobil listrik sebagai kendaraan harian. Berbeda dengan mobil konvensional, mobil listrik punya sejumlah karakteristik yang justru pas untuk pola berkendara di kota seperti Surabaya dan Sidoarjo. Berikut ulasannya.
1. Biaya Operasional Jauh Lebih Hemat untuk Jarak Dekat
Pola perjalanan di Surabaya-Sidoarjo umumnya berupa commuting jarak pendek-menengah (rumah–kantor, antar-jemput sekolah, ke pusat perbelanjaan). Karakteristik ini justru paling menguntungkan bagi mobil listrik, karena:
- Konsumsi listrik per kilometer jauh lebih murah dibanding bensin/solar.
- Biaya perawatan lebih rendah—tidak ada ganti oli mesin, filter udara, atau komponen pembakaran yang aus.
- Pengisian daya bisa dilakukan di rumah semalaman, sehingga tidak perlu mampir ke SPBU setiap beberapa hari.
Untuk pemakaian stop-and-go khas kota, motor listrik juga lebih efisien karena tidak boros energi saat idle di kemacetan—berbeda dengan mesin bensin yang tetap membakar bahan bakar saat berhenti.
2. Cocok dengan Karakter Jalan Kota yang Padat dan Berkecepatan Rendah
Rute utama di Surabaya seperti Jalan Ahmad Yani, Mayjen Sungkono, atau akses tol Waru-Sidoarjo sering mengalami kepadatan pada jam sibuk. Mobil listrik unggul dalam kondisi ini karena:
- Akselerasi instan dari motor listrik membuat manuver stop-and-go terasa lebih halus dan responsif.
- Fitur regenerative braking pada mobil listrik membantu mengisi ulang baterai saat pengereman di kemacetan, sekaligus mengurangi keausan kampas rem.
- Suara kabin yang senyap membuat berkendara di tengah kepadatan kota terasa lebih nyaman, terutama untuk perjalanan panjang dalam kemacetan.
3. Infrastruktur Pengisian Daya di Surabaya-Sidoarjo Kian Berkembang
Salah satu kekhawatiran calon pemilik mobil listrik adalah ketersediaan tempat pengisian daya. Kabar baiknya, ekosistem SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) di Surabaya dan sekitarnya terus bertambah, tersebar di:
- Pusat perbelanjaan besar (mal-mal utama di Surabaya)
- Rest area di ruas tol Surabaya-Sidoarjo-Gempol
- SPBU milik Pertamina yang mulai menyediakan fasilitas fast charging
Ditambah lagi, sebagian besar pemilik city car listrik cukup mengandalkan pengisian daya rumahan (home charging) karena jarak tempuh harian di dalam kota umumnya tidak sampai menguras baterai sepenuhnya.
4. Ramah Lingkungan, Cocok untuk Kota dengan Kualitas Udara yang Perlu Dijaga
Sebagai kota besar dengan lalu lintas padat, Surabaya menghadapi tantangan polusi udara dari kendaraan bermotor. Mobil listrik tidak menghasilkan emisi gas buang langsung, sehingga:
- Berkontribusi mengurangi polusi udara perkotaan.
- Mendukung target nasional transisi energi bersih dan pengurangan emisi karbon.
- Cocok untuk keluarga yang peduli terhadap kualitas udara di lingkungan tempat tinggal.
5. Desain City Car yang Praktis untuk Parkir dan Manuver
Mayoritas mobil listrik yang beredar di Indonesia hadir dalam bodi kompak—cocok untuk lahan parkir terbatas di kawasan permukiman padat, ruko, maupun area perkantoran di Surabaya dan Sidoarjo. Radius putar yang kecil dan dimensi ringkas memudahkan manuver di gang-gang sempit atau area parkir mal yang penuh saat akhir pekan.
6. Tren Harga yang Makin Terjangkau (dengan Catatan)
Beberapa tahun terakhir, insentif pemerintah seperti PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dan bea masuk nol persen untuk mobil listrik impor CBU sempat membuat harga EV jauh lebih kompetitif dibanding mobil bensin sekelas. Namun perlu dicatat, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menyatakan tidak akan memperpanjang insentif impor Completely Built Up untuk mobil listrik mulai tahun 2026, sebagai upaya mendorong produsen membangun pabrik perakitan lokal. Penghapusan sejumlah insentif pajak kendaraan listrik pada 2026 berpotensi menaikkan harga kendaraan sekitar 5–15 persen, meski besarannya tergantung kebijakan masing-masing produsen.
Kabar baiknya, mayoritas mobil listrik yang dijual di Indonesia saat ini sudah dirakit secara lokal (CKD), sehingga dampak kenaikan harga diperkirakan relatif tipis. Pemerintah juga tengah menyiapkan paket insentif baru, termasuk subsidi pembelian mobil listrik hingga 40 persen untuk kategori tertentu—meski kebijakan ini masih dalam tahap finalisasi. Karena kebijakan insentif terus berubah, calon pembeli disarankan mengecek harga on-the-road terbaru langsung ke dealer sebelum memutuskan membeli.
Kesimpulan
Untuk mobilitas harian di Surabaya dan Sidoarjo—commuting jarak pendek, sering terjebak macet, dan butuh kendaraan yang praktis diparkir—mobil listrik menawarkan kombinasi efisiensi biaya, kenyamanan berkendara, dan dukungan infrastruktur yang semakin matang. Meski insentif pajak mengalami perubahan kebijakan, karakter penggunaan city car di kota besar tetap menjadikan mobil listrik pilihan yang layak dipertimbangkan, terutama bagi yang mengutamakan biaya operasional rendah dan kenyamanan berkendara di tengah kepadatan kota.
